Dalam
berbagai kegiatan upacara keagamaan berbagai umat. Terdapat beberapa tahapan
agar upacara tersebut dikatakan berhasil. Bagi umat Hindu, Melasti merupakan
rangkaian awal dalam persiapan Ritual Catur
Brata penyepian. Namun sebelum membahas mengenai Melasti, penulis akan menjelaskan
terlebih dahulu mengenai hari raya Nyepi yang diadakan oleh umat Hindu.
Hari raya Nyepi merupakan hari raya yang dinanti-nantikan oleh para
umat Hindu.
Dalam perayaan hari raya Nyepi ini diadakan setiap tahun baru saka. Adanya perayaan hari raya nyepi ini menunjukkan
bahwa umat hindu berusaha unuk memperoleh berkah dengan
melaksanakan Nyepi. Nyepi yang diadakan oleh umat Hindu ini sama halnya dengan ibadah puasa yang biasa dilakukan oleh Islam untuk menahan diri dari segala hawa nafsu yang ada
di duniawi.
Ketika
berbicara mengenai Hari raya Nyepi, maka terdapat sequence dalam Persiapan ritual melaksanakan Catur Brata Penyepian. Ritual Catur
Brata Penyepian merupakan salah satu ritual yang diadakan oleh orang Hindu
untuk memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Alit
(alam manusia atau microcosmos) dan Buwana Agung/macrocosmos (alam
semesta). Hari Raya Nyepi juga sebagai hari raya umat Hindu yang dirayakan
setiap tahun Baru Saka.
Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai
merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa
intisari amerta
air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.
Pada persiapan ritual Pelaksanaan Catur Brata Penyepian, memiliki beberapa
ritual yang harus dilakukan agar perayaan Catur
Brata Penyepian itu dapat dikatakan sah. Namun adapun ketentuan-ketentuan
bagi yang tidak diperbolehkan mengikuti Ritual nyepi yakni bagi wanita yang
sedang mengalami sakit dan cuntaka
(menstruasi). Bagi priapun juga begitu bila mengalami sakit pria juga tidak
boleh mengikuti nyepi.
Adanya kegiatan nyepi yang dilaksanakan
oleh umat Hindu merupakan fenomena sosio-cultural.
Fenomena ini patut menjadi perhatian bagi kalangan antropolog khususnya bagi
antropolog yang sedang mendalami studi mengenai antropologi visual. Hal ini
dikarenakan fenomena ritual Catur Brata Penyepian
jarang di dokumentasikan apalagi Ritual Catur
Brata ini hanya dilaksanakan setiap tahun baru saka.
Keberadaan Fenomena sosio-cultural tersebut, terkait dengan adanya urutan-urutan prosesi
pelaksanaan Ritual Catur Brata Penyepian. Urutan-urutan
ini memiliki filosofi tersendiri bagi kalangan umat Hindu. Namun, Dalam hal ini
penulis lebih memfokuskan pada explanatory photograph[1] mengenai tahapan awal
pelaksanaan ritual Catur
Brata yakni upacara Melasti yang diadakan oleh umat Hindu.
Upacara Melasti yang diadakan pada tahun saka
1933 ini sangat ramai sekali dan serentak diikuti oleh berbagai umat hindu di
luar kota Surabaya. Upacara
ini merupakan rangkaian awal untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka
1933. Pada kata Kata Melasti merupakan Bahasa Kawi yang berasal dari kata “mala” = kotoran dan “asti” = abu/
lebur dengan demikian Melasti artinya melebur kotoran. Kegiatan Melasti juga
disebut melelasti, melis, mesucian, mekiyis (www.stitidharma.org.com).
Dalam
upacara tersebut terdapat nilai-nilai budaya serta filosofi-filosofi yang
melekat pada proses pelaksanaannya. adanya nilai-nilai budaya beserta filosofi
itulah yang menjadikan sebuah alasan bagi penulis untuk mengambil Tema tentang Perayaan Nyepi Umat
Hindu dengan Judul mengenai Perayaan Upacara Melasti Umat Hindu dalam sudut pandang studi antropologi
visual. Penulis juga mengambil potret foto
dari Santiasa Putra. Foto ini diambil ketika beliau mengikuti upacara Melasti di
Pura Agung Jagad Karana,
Surabaya. Terkait dengan adanya
pemaparan latar belakang permasalahan diatas.
Maka penulis memfokuskan
pada explanatory photograph mengenai urutan-urutan
upacara Melasti yang diadakan oleh umat Hindu di Surabaya. Adapun tujuan penulisan tugas Ujian Tengah Semester Antropologi
Visual yang temanya tentang urutan-urutan
upacara Melasti penyepian yakni yang pertama adalah untuk memahami serta
mendeskripsikan foto-foto mengenai urutan-urutan upacara Melasti Umat Hindu di
Kota Surabaya. Tujuan yang kedua yakni sebagai syarat untuk memenuhi Tugas Ujian
Tengah Semester yang telah diberikan oleh Bapak Drs. Pudjio Santoso selaku
sebagai dosen pengajar mata kuliah Antropologi Visual.
[1] Foto jenis ini digunakan untuk menjelaskan
suatu fenomena, kejadian
yang bersifat apa adanya. Foto-foto yang
termasuk dalam kategori ini biasanya menunjukkan tempat dan waktu spesifik yang
dapat menjadi bukti visual yang dapat dilacak kebenarannya (Santoso, kuliah
Antropologi Visual,
Dept. Antropologi, FISIP, Unair, semester genap 2011).
Pada
persiapan upacara Melasti yang diadakan oleh umat Hindu, terdapat beberapa
urutan dalam melaksanakan upacara Melasti tersebut. Dalam hal ini, penulis akan
memvisualisasikan dari hasil potret foto dari Santiasa Putra (mahasiswa
Antropologi UNAIR) ketika dia
mengikuti upacara Melasti. Foto ini penulis tampilkan secara berurutan dengan model
foto landscape dan portrait. Mengapa penulis menampilkan
foto secara berurutan? Hal ini dikarenakan visualisasi foto yang penulis
tampilkan disesuaikan dengan model etno
script. Model etno script ini digunakan untuk menjelaskan mulai dari awal
persiapan pelaksanaan upacara Melasti hingga akhir pelaksanaan upacara Melasti.
Dalam alinea berikut penulis akan menjelaskan
mengenai urutan-urutan pelaksanaan upacara Melasti. Urutan yang Pertama yakni warga
umat Hindu melaksanakan sebelum
melaksanakan Melasti warga umat Hindu melakukan persembayangan di Pura Agung
Jagad Karana yang letaknya di daerah perak, Surabaya. Hal ini dilakukan untuk berdoa agar acara Melasti
sukses dan berjalan dengan lancar. Berikut potret foto pertama sebelum
dimulainya Melasti yang akan diadakan oleh umat Hindu.
Foto 1 keharmonisan dan suasana persembayangan umat hindu
di Pura Agung Jagad Karana. Dalam potret terlihat beberapa orang sedang
melaksanakan persembayangan dengan tujuan agar acara Melasti dapat terlaksana
dengan lancar. Dari keadaan jauh para pedande
juga sibuk mempersiapkan prasarana persembayangan untuk acara Melasti.
Setelah
melakukan persembayangan, barulah tahap kedua pelaksanaan Melasti yakni segala sarana persembahyangan yang ada
di Pura (tempat suci) di arak ke laut,
karena laut adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala
leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.
Beberapa potret diatas merupakan
sekumpulan foto ke 2 yang diambil
oleh Santiasa Putra mengenai persiapan Melasti yang dilaksanakan oleh sekumpulan
orang dari Pura Thirta Gangga[1] dengan mengambil segala
prasarana persembayangan yang akan diarak
di lautan Bumimoro. Terlihat beberapa pretima-pretima dan banten suci (sejenis persembahan untuk Sanghyang Baruna). Banten ini
dibawa ke laut untuk Ida Sanghyang Widhi Wasa. Banten ini jenisnya sangat beragam karena banten ini
dibuat orang yang berasal dari berbagai daerah.
[1]
Selain dari Pura Tirtha
Gangga juga terdapat dari beberapa pihak dari pura lainnya yang berasal dari
luar kota Surabaya.
Setelah mengambil segala prasarana persembayangan di Pura. Barulah segerombolan umat Hindu ini melakukan Ngarak dari
Pura menuju ke Laut. Adapun aturan-aturan yang tidak diperbolehkan ketika
melakukan ngarak ini yakni tidak boleh menggunakan kendaraan bermotor ketika
ngarak. Hal ini disebabkan bagi umat hindu, ngarak ini dilakukan untuk
mengiringi tuhan menuju ke laut dengan tujuan melenyapkan kekotoran dunia dan melenyapkan
penderitaan manusia yang menumpuk di tahun yang lalu. Tujuan dari Ngarak ini adalah untuk untuk mengingatkan umat agar meningkatkan terus baktinya kepada Tuhan
(ngiring parwatek dewata).
Foto 4. Perjalanan ngarak unat
Hindu menuju ke lautan bumimoro. Dalam hal ini terdapat beberapa orang yang
mengirinya yakni orang yang memegang bendera imbul-imbul beserta diiringi musik gong dan gamelan.
Di belakang dari orang yang sedang ngarak banten suci
terdapat orang yang mengiringinya dengan membawa Bendera imbul-imbul beserta diiringi gong dan gamelan (lihat rangkaian foto
ke 4). Imbul imbul ini merupakan simbol
dari tuhan. Dan warna dalam bendera ini tidak berpengaruh. Bendera yang dibawa
beserta kostum digunakan masing-masing daerah juga bervariasi dalam acara Melasti
ini (lihat foto 3). Hal ini juga menunjukkan sebagai identitas umat Hindu yang
beragam pula.
Mengenai foto ke lima adalah sekumpulan orang yang ngarak tiba di tepi
laut. Dan ketika tiba di tepi laut ini, sekumpulan umat hindu bersiap-siap
melakukan persembayangan. Persembayangan inilah merupakan inti dari pelaksanaan
upacara Melasti. Namun sebelum persembayangan dimulai, para Pedande memercikkan air kepada para umat
hindu sebelum melaksanakan persembayangan. Umat hindu melakukan
persembayangan di tepi laut yang dimulai pelaksanaannya dengan lonceng yang
dibunyikan oleh pedande. Setelah itu
umat hindu membuang sesajen-sesajen di tepi laut yang dilakukan bersama-sama
oleh umat hindu. Namun banten ini tidak dibuang namun akan dibawa lagi ke pura.
Setelah Melasti para umat hindu menuju ke pura untuk
melakukan persembayangan dan meminta banten suci. Menurut kepercayaan umat
hindu banten suci ini digunakan sebagai penolak bala dari butha kala. Namun
dalam hal ini dinamakan upacara
pelaksanaan Nyepi tahap kedua yakni Nyejer di Pura. Sekembalinya
dari Melasti, pretima (niyasa Ida Bethara) di-stanakan di Pura. Di sini warga
masyarakat mendapat kesempatan ngaturang ayaban serta mohon dianugerahi
kesucian dan ketenteraman batin dalam menyambut Hari Raya Nyepi.
Dari serangkaian foto yang penulis sajikan diatas merupakan potret foto
pelaksanaan upacara Melasti dalam rangka menyambut Nyepi pada Tahun Baru Saka
1933. Upacara Melasti ini diadakan serentak karena bukan hanya umat Hindu di
Surabaya saja yang berbondong-bondong datang ke Pura Agung Jagad Karana ini
melainkan Umat Hindu dari luar daerah pun datang ke acara ini. Dalam hal ini
acara Melasti ini digunakan untuk membangun Tri
Hita Karana. Tri Hita Karana ini berasal
dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan “Karana”
yang berarti penyebab. Dengan
demikian Tri Hita Karana berarti “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan”.
Dan mengenai Tiga penyebab kebahagiaan yang
dimaksud adalah adanya Hubungan baik manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, Hubungan
baik manusia dengan manusia lainnya dan Hubungan baik manusia dengan lingkungannya.
Demikian tulisan yang penulis persembahkan. Bila ada
kata-kata yang tidak berkenan di hati mohon dimaklumi, karena penulis masih
belum maksimal untuk memperoleh potret-potret foto yang valid.
Daftar Pustaka :
Santoso, Pudjio
2011 Ceramah Kuliah Antropologi Visual, Surabaya
http://stitidharma.org/nyepi-urutan-upacara-dan-filosofinya/ diakses
tanggal 10 april 2011 pada pukul 20:17 WIB
http://sukrawan.com/2010/08/06/pengertian-tri-hita-karana/ diakses tanggal 10 april 2011 pada pukul 20:21 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar