Antropolog Pos

Selasa, 06 Maret 2012

Antropologi Visual Part II (Perayaan Upacara Melasti Umat Hindu di Surabaya)



            Dalam berbagai kegiatan upacara keagamaan berbagai umat. Terdapat beberapa tahapan agar upacara tersebut dikatakan berhasil. Bagi umat Hindu, Melasti merupakan rangkaian awal dalam persiapan Ritual Catur Brata penyepian. Namun sebelum membahas mengenai Melasti, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai hari raya Nyepi yang diadakan oleh umat Hindu.
Hari raya Nyepi merupakan hari raya yang dinanti-nantikan oleh para umat Hindu. Dalam perayaan hari raya Nyepi ini diadakan setiap tahun baru saka. Adanya perayaan hari raya nyepi ini menunjukkan bahwa umat hindu berusaha unuk memperoleh berkah dengan melaksanakan Nyepi. Nyepi yang diadakan oleh umat Hindu ini sama halnya dengan  ibadah puasa yang biasa dilakukan oleh Islam untuk menahan diri dari segala hawa nafsu yang ada di duniawi.
Ketika berbicara mengenai Hari raya Nyepi, maka terdapat sequence dalam Persiapan ritual melaksanakan Catur Brata Penyepian. Ritual Catur Brata Penyepian merupakan salah satu ritual yang diadakan oleh orang Hindu untuk memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia atau microcosmos) dan Buwana Agung/macrocosmos (alam semesta). Hari Raya Nyepi juga sebagai hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.
             Pada persiapan ritual Pelaksanaan Catur Brata Penyepian, memiliki beberapa ritual yang harus dilakukan agar perayaan Catur Brata Penyepian itu dapat dikatakan sah. Namun adapun ketentuan-ketentuan bagi yang tidak diperbolehkan mengikuti Ritual nyepi yakni bagi wanita yang sedang mengalami sakit dan cuntaka (menstruasi). Bagi priapun juga begitu bila mengalami sakit pria juga tidak boleh mengikuti nyepi.
            Adanya kegiatan nyepi yang dilaksanakan oleh umat Hindu merupakan fenomena sosio-cultural. Fenomena ini patut menjadi perhatian bagi kalangan antropolog khususnya bagi antropolog yang sedang mendalami studi mengenai antropologi visual. Hal ini dikarenakan fenomena ritual Catur Brata Penyepian jarang di dokumentasikan apalagi Ritual Catur Brata ini hanya dilaksanakan setiap tahun baru saka.
            Keberadaan Fenomena sosio-cultural tersebut, terkait dengan adanya urutan-urutan prosesi pelaksanaan Ritual Catur Brata Penyepian. Urutan-urutan ini memiliki filosofi tersendiri bagi kalangan umat Hindu. Namun, Dalam hal ini penulis lebih memfokuskan pada explanatory photograph[1] mengenai tahapan awal pelaksanaan ritual Catur Brata yakni upacara Melasti yang diadakan oleh umat Hindu.
Upacara Melasti yang diadakan pada tahun saka 1933 ini sangat ramai sekali dan serentak diikuti oleh berbagai umat hindu di luar kota Surabaya. Upacara ini merupakan rangkaian awal untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933. Pada kata Kata Melasti merupakan Bahasa Kawi yang berasal dari kata “mala” = kotoran dan “asti” = abu/ lebur dengan demikian Melasti artinya melebur kotoran. Kegiatan Melasti juga disebut melelasti, melis, mesucian, mekiyis (www.stitidharma.org.com).
Dalam upacara tersebut terdapat nilai-nilai budaya serta filosofi-filosofi yang melekat pada proses pelaksanaannya. adanya nilai-nilai budaya beserta filosofi itulah yang menjadikan sebuah alasan bagi penulis untuk mengambil Tema tentang Perayaan Nyepi Umat Hindu dengan Judul mengenai Perayaan Upacara Melasti Umat Hindu dalam sudut pandang studi antropologi visual. Penulis juga mengambil potret foto dari Santiasa Putra. Foto ini diambil ketika beliau mengikuti upacara Melasti di Pura Agung Jagad Karana, Surabaya. Terkait dengan adanya pemaparan latar belakang permasalahan diatas. Maka penulis memfokuskan pada explanatory photograph mengenai urutan-urutan upacara Melasti yang diadakan oleh umat Hindu di Surabaya. Adapun tujuan penulisan tugas Ujian Tengah Semester Antropologi Visual yang temanya tentang urutan-urutan upacara Melasti penyepian yakni yang pertama adalah untuk memahami serta mendeskripsikan foto-foto mengenai urutan-urutan upacara Melasti Umat Hindu di Kota Surabaya. Tujuan yang kedua yakni sebagai syarat untuk memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester yang telah diberikan oleh Bapak Drs. Pudjio Santoso selaku sebagai dosen pengajar mata kuliah Antropologi Visual.


[1] Foto jenis ini digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena, kejadian yang bersifat apa adanya. Foto-foto yang termasuk dalam kategori ini biasanya menunjukkan tempat dan waktu spesifik yang dapat menjadi bukti visual yang dapat dilacak kebenarannya (Santoso, kuliah Antropologi Visual, Dept. Antropologi, FISIP, Unair, semester genap 2011).


Pada persiapan upacara Melasti yang diadakan oleh umat Hindu, terdapat beberapa urutan dalam melaksanakan upacara Melasti tersebut. Dalam hal ini, penulis akan memvisualisasikan dari hasil potret foto dari Santiasa Putra (mahasiswa Antropologi UNAIR) ketika dia mengikuti upacara Melasti. Foto ini penulis tampilkan secara berurutan dengan model foto landscape dan portrait. Mengapa penulis menampilkan foto secara berurutan? Hal ini dikarenakan visualisasi foto yang penulis tampilkan disesuaikan dengan model etno script.  Model etno script ini digunakan untuk menjelaskan mulai dari awal persiapan pelaksanaan upacara Melasti hingga akhir pelaksanaan upacara Melasti.
            Dalam alinea berikut penulis akan menjelaskan mengenai urutan-urutan pelaksanaan upacara Melasti. Urutan yang Pertama yakni warga umat Hindu melaksanakan sebelum melaksanakan Melasti warga umat Hindu melakukan persembayangan di Pura Agung Jagad Karana yang letaknya di daerah perak, Surabaya. Hal  ini dilakukan untuk berdoa agar acara Melasti sukses dan berjalan dengan lancar. Berikut potret foto pertama sebelum dimulainya Melasti yang akan diadakan oleh umat Hindu.


Foto 1 keharmonisan dan suasana persembayangan umat hindu di Pura Agung Jagad Karana. Dalam potret terlihat beberapa orang sedang melaksanakan persembayangan dengan tujuan agar acara Melasti dapat terlaksana dengan lancar. Dari keadaan jauh para pedande juga sibuk mempersiapkan prasarana persembayangan untuk acara Melasti.







Setelah melakukan persembayangan, barulah tahap kedua pelaksanaan Melasti yakni segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke laut, karena laut adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.



 
Beberapa potret diatas merupakan sekumpulan  foto ke 2 yang diambil oleh  Santiasa Putra mengenai persiapan Melasti yang dilaksanakan oleh sekumpulan orang dari Pura Thirta Gangga[1] dengan mengambil segala prasarana persembayangan yang akan diarak di lautan Bumimoro. Terlihat beberapa pretima-pretima dan banten suci (sejenis persembahan untuk Sanghyang Baruna). Banten ini dibawa ke laut untuk Ida Sanghyang Widhi Wasa. Banten ini jenisnya sangat beragam karena banten ini dibuat orang yang berasal dari berbagai daerah.


[1] Selain dari Pura Tirtha Gangga juga terdapat dari beberapa pihak dari pura lainnya yang berasal dari luar kota Surabaya.
 

Foto 3  foto beberapa orang yang berasal dari luar kota Surabaya yang ikut meramaikan upacara Melasti umat Hindu di Kota Surabaya. Hal ini merupakan ajaran tri hita karana antara hubungan manusia dengan manusia. Filosofinya dengan adanya keaneka ragaman budaya ini merupakan simbol kerukunan antar umat beragama.















Setelah mengambil segala prasarana persembayangan di Pura. Barulah segerombolan umat Hindu ini melakukan Ngarak dari Pura menuju ke Laut. Adapun aturan-aturan yang tidak diperbolehkan ketika melakukan ngarak ini yakni tidak boleh menggunakan kendaraan bermotor ketika ngarak. Hal ini disebabkan bagi umat hindu, ngarak ini dilakukan untuk mengiringi tuhan menuju ke laut dengan tujuan melenyapkan kekotoran dunia dan melenyapkan penderitaan manusia yang menumpuk di tahun yang lalu. Tujuan dari Ngarak ini adalah untuk untuk mengingatkan umat agar meningkatkan terus baktinya kepada Tuhan (ngiring parwatek dewata).











 





















Foto 4. Perjalanan ngarak unat Hindu menuju ke lautan bumimoro. Dalam hal ini terdapat beberapa orang yang mengirinya yakni orang yang memegang bendera imbul-imbul beserta diiringi musik gong dan gamelan.


Di belakang dari orang yang sedang ngarak banten suci terdapat orang yang mengiringinya dengan membawa Bendera imbul-imbul beserta diiringi gong dan gamelan (lihat rangkaian foto ke 4). Imbul imbul ini merupakan simbol dari tuhan. Dan warna dalam bendera ini tidak berpengaruh. Bendera yang dibawa beserta kostum digunakan masing-masing daerah juga bervariasi dalam acara Melasti ini (lihat foto 3). Hal ini juga menunjukkan sebagai identitas umat Hindu yang beragam pula.
 



 

 


 
Mengenai foto ke lima adalah sekumpulan orang yang ngarak tiba di tepi laut. Dan ketika tiba di tepi laut ini, sekumpulan umat hindu bersiap-siap melakukan persembayangan. Persembayangan inilah merupakan inti dari pelaksanaan upacara Melasti. Namun sebelum persembayangan dimulai, para Pedande memercikkan air kepada para umat hindu sebelum melaksanakan persembayangan. Umat hindu melakukan persembayangan di tepi laut yang dimulai pelaksanaannya dengan lonceng yang dibunyikan oleh pedande. Setelah itu umat hindu membuang sesajen-sesajen di tepi laut yang dilakukan bersama-sama oleh umat hindu. Namun banten ini tidak dibuang namun akan dibawa lagi ke pura.
Setelah Melasti para umat hindu menuju ke pura untuk melakukan persembayangan dan meminta banten suci. Menurut kepercayaan umat hindu banten suci ini digunakan sebagai penolak bala dari butha kala. Namun dalam hal ini dinamakan  upacara pelaksanaan Nyepi tahap kedua yakni  Nyejer di Pura. Sekembalinya dari Melasti, pretima (niyasa Ida Bethara) di-stanakan di Pura. Di sini warga masyarakat mendapat kesempatan ngaturang ayaban serta mohon dianugerahi kesucian dan ketenteraman batin dalam menyambut Hari Raya Nyepi.
Dari serangkaian foto yang penulis sajikan diatas merupakan potret foto pelaksanaan upacara Melasti dalam rangka menyambut Nyepi pada Tahun Baru Saka 1933. Upacara Melasti ini diadakan serentak karena bukan hanya umat Hindu di Surabaya saja yang berbondong-bondong datang ke Pura Agung Jagad Karana ini melainkan Umat Hindu dari luar daerah pun datang ke acara ini. Dalam hal ini acara Melasti ini digunakan untuk membangun Tri Hita Karana. Tri Hita Karana ini berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan “Karana” yang berarti penyebab. Dengan demikian Tri Hita Karana berarti “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan”. Dan mengenai Tiga penyebab kebahagiaan yang dimaksud adalah adanya Hubungan baik manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, Hubungan baik manusia dengan manusia lainnya dan Hubungan baik manusia dengan lingkungannya.
Demikian tulisan yang penulis persembahkan. Bila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati mohon dimaklumi, karena penulis masih belum maksimal untuk memperoleh potret-potret foto yang valid.

Daftar Pustaka :
Santoso, Pudjio
2011    Ceramah Kuliah Antropologi Visual, Surabaya
http://stitidharma.org/nyepi-urutan-upacara-dan-filosofinya/ diakses tanggal 10 april 2011 pada pukul 20:17 WIB
http://sukrawan.com/2010/08/06/pengertian-tri-hita-karana/ diakses tanggal 10 april 2011 pada pukul 20:21 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar